Jelang Ramadan, Warga Sawang Aceh Utara Ingin Tempat Ibadah yang Layak

Aceh Utara (epictoto) — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, denyut kehidupan di Kecamatan Sawang terasa berbeda. Pagi dan sore hari, warga tampak bergotong royong membersihkan halaman masjid dan meunasah. Sapu lidi bergerak pelan, ember air ditimba bergantian. Namun di balik semangat kebersamaan itu, tersimpan harapan yang belum sepenuhnya terpenuhi: tempat ibadah yang layak, aman, dan nyaman untuk menyambut Ramadan.

Di beberapa gampong di Sawang, kondisi masjid dan meunasah masih jauh dari ideal. Atap bocor saat hujan turun, lantai yang mulai retak, hingga fasilitas wudu yang terbatas. Bagi warga, ini bukan soal kemewahan—melainkan hak dasar untuk beribadah dengan tenang dan bermartabat.


Ramadan dan Makna Ruang Ibadah

Ramadan adalah bulan ketika masjid menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual. Salat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, hingga berbagi hidangan berbuka berlangsung hampir setiap hari. Ketika ruang ibadah tidak memadai, aktivitas itu menjadi terbatas—bahkan berisiko bagi keselamatan jamaah, terutama lansia dan anak-anak.

“Kalau hujan, kami harus geser saf karena air menetes,” tutur seorang warga dengan nada lirih. Cerita semacam ini berulang di beberapa titik. Ia menggambarkan kebutuhan yang sederhana namun mendesak: keamanan dan kelayakan bangunan.


Gotong Royong yang Menjaga Martabat

Meski keterbatasan ada, warga Sawang tidak tinggal diam. Mereka mengumpulkan dana seadanya, memperbaiki yang bisa diperbaiki, dan menjaga kebersihan sebaik mungkin. Gotong royong menjadi penyangga utama—sebuah nilai kemanusiaan yang hidup dan menguat di tengah keterbatasan.

Namun, gotong royong memiliki batas. Perbaikan struktural membutuhkan dukungan lebih besar—material, teknis, dan pendanaan—yang tak selalu dapat dipenuhi warga desa.


Aspek Keamanan Publik dan Tanggung Jawab Bersama

Tempat ibadah adalah ruang publik. Dalam perspektif keamanan publik, bangunan yang tidak layak berpotensi membahayakan jamaah. Di sinilah peran negara dan pemangku kepentingan diuji: memastikan fasilitas ibadah memenuhi standar keselamatan dasar, terutama menjelang periode aktivitas tinggi seperti Ramadan.

Warga berharap ada perhatian dari pemerintah daerah Aceh Utara, baik melalui program rehabilitasi ringan, bantuan material, maupun pendampingan teknis. Harapan itu disampaikan tanpa tuntutan berlebihan—lebih sebagai ajakan untuk hadir dan mendengar.


Kemanusiaan yang Berangkat dari Iman

Bagi masyarakat Sawang, masjid dan meunasah bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang bertemu, ruang belajar, dan ruang menenangkan diri. Ketika tempat ibadah layak, yang terjaga bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga ketenangan batin dan kebersamaan sosial.

Seorang ibu yang rutin membawa anaknya mengaji berkata, “Kami ingin anak-anak nyaman, tidak takut lantainya licin atau lampunya mati.” Kalimat ini menegaskan bahwa kelayakan tempat ibadah adalah investasi jangka panjang bagi generasi.


Menjelang Ramadan, Menjaga Harapan

Hari-hari menuju Ramadan terus berjalan. Warga Sawang tetap membersihkan, memperbaiki, dan berdoa—agar bulan suci disambut dengan hati lapang. Harapan mereka sederhana dan membumi: tempat ibadah yang aman, bersih, dan layak.

Di Aceh Utara, menjelang Ramadan, suara sapu dan doa bersahut-sahutan. Di sanalah kemanusiaan menemukan jalannya—dari iman, dari kebersamaan, dan dari harapan akan perhatian yang adil.