Serang — Di ruang kelas, perhatian adalah mata uang paling berharga. Itulah yang mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten (Dindikbud Banten) melakukan uji coba pembatasan penggunaan ponsel di sekolah. Kebijakan ini diarahkan untuk menekan distraksi, mengembalikan fokus belajar, dan menciptakan ruang aman bagi tumbuh kembang siswa.
Langkah ini muncul dari kegelisahan yang akrab di telinga guru dan orang tua: notifikasi tak henti, layar yang lebih menarik dari papan tulis, dan konsentrasi yang kian terpecah.
Mengapa Pembatasan Diperlukan
Dindikbud Banten menilai ponsel—meski bermanfaat—sering menjadi sumber gangguan utama di kelas. Pesan instan, gim, dan media sosial menyedot perhatian, memendekkan rentang fokus, dan memicu kecemasan. Uji coba pembatasan bertujuan menata ulang kebiasaan, bukan mematikan teknologi.
Pendekatannya bersifat proporsional: ponsel dibatasi pada jam belajar, dengan pengecualian untuk kebutuhan darurat atau pembelajaran terarah yang memang memerlukan gawai.
Skema Uji Coba di Sekolah
Sekolah yang ikut uji coba menerapkan beberapa mekanisme:
-
penitipan ponsel selama jam pelajaran,
-
aturan jelas kapan ponsel boleh digunakan,
-
pengawasan guru dan sosialisasi ke orang tua,
-
serta evaluasi berkala dampak kebijakan.
Tujuannya memastikan kebijakan adil dan dapat diterapkan, tanpa menambah beban berlebihan.
Dampak Awal yang Diharapkan
Guru berharap suasana kelas menjadi lebih tenang dan interaktif. Diskusi lisan meningkat, tatap mata kembali hadir, dan tugas dikerjakan tanpa selingan notifikasi. Bagi siswa, ini kesempatan melatih kontrol diri—keterampilan penting di era digital.
Beberapa siswa mengakui, “Awalnya gelisah, tapi jadi lebih fokus.” Sebuah adaptasi kecil dengan efek besar.
Keamanan dan Kesehatan Mental
Pembatasan ponsel juga dipandang sebagai langkah keamanan psikologis. Paparan berlebihan terhadap konten daring berisiko memicu perundungan siber, kecemasan, dan tekanan sosial. Dengan ruang kelas yang lebih steril dari layar, sekolah berupaya menjadi zona aman untuk belajar dan berinteraksi sehat.
Teknologi Tetap Punya Tempat
Dindikbud menegaskan kebijakan ini bukan anti-teknologi. Literasi digital tetap penting—ponsel dan perangkat akan digunakan secara terarah untuk pembelajaran tertentu. Kuncinya adalah waktu, tujuan, dan pengawasan.
Peran Orang Tua dan Evaluasi
Keberhasilan uji coba bergantung pada dukungan orang tua. Komunikasi rumah–sekolah diperkuat agar aturan konsisten. Hasil uji coba akan dievaluasi: apakah fokus belajar meningkat, disiplin membaik, dan relasi sosial di kelas lebih sehat.
Penutup
Uji coba pembatasan ponsel oleh Dindikbud Banten adalah upaya menyeimbangkan dunia digital dan kebutuhan manusiawi belajar. Di tengah banjir notifikasi, sekolah memilih memberi jeda—agar siswa bisa hadir utuh di kelas, berpikir jernih, dan tumbuh dengan sehat.
