Jelang Ramadhan, Harga Cabai Rawit di Pasar Jatinegara Mulai Naik

Jakarta — Menjelang datangnya bulan Ramadhan, denyut ekonomi kecil terasa lebih cepat di Pasar Jatinegara. Di antara hiruk pikuk tawar-menawar, satu komoditas mulai menyita perhatian: cabai rawit. Harganya perlahan merangkak naik, memantik keluhan ringan dari pembeli sekaligus kehati-hatian dari pedagang yang tak ingin kehilangan pelanggan.

Kenaikan ini bukan kejutan bagi warga pasar. Setiap jelang Ramadhan, pola yang sama kerap terulang—permintaan meningkat, pasokan menyesuaikan, dan harga bergerak naik. Namun bagi banyak keluarga, selisih harga sekecil apa pun terasa nyata di meja makan.

Dari Lapak ke Dapur

Pedagang mengakui, harga cabai rawit mulai bergerak sejak beberapa hari terakhir. Pasokan dari sentra produksi belum sepenuhnya stabil, sementara permintaan mulai naik seiring persiapan sahur dan berbuka. “Kalau sudah mendekati Ramadhan, pembeli tambah ramai. Cabai selalu dicari,” ujar seorang pedagang sambil menata cabai merah kecil yang menyala di lapaknya.

Bagi ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner rumahan, cabai rawit bukan sekadar pelengkap—ia penentu rasa. Kenaikan harga memaksa sebagian pembeli mengurangi jumlah belanja atau mengganti jenis cabai, menimbang kebutuhan dapur dengan anggaran yang ada.

Dinamika Pasar dan Rantai Pasok

Kenaikan harga jelang Ramadhan kerap dipengaruhi beberapa faktor: cuaca yang memengaruhi panen, distribusi dari daerah produksi, serta lonjakan permintaan musiman. Di pasar tradisional seperti Jatinegara, perubahan itu cepat terasa karena transaksi terjadi harian dan langsung antara pedagang dan pembeli.

Pedagang memilih bersikap hati-hati. Harga dinaikkan bertahap agar tidak mengejutkan pelanggan tetap. “Kalau naiknya kebanyakan, pembeli kabur. Kita jaga sama-sama,” kata pedagang lain, mencerminkan etika pasar yang membumi.

Human Interest: Menjaga Rasa, Menjaga Anggaran

Di balik angka harga, ada cerita keluarga yang menyesuaikan menu, ada penjual gorengan yang menghitung ulang modal, dan ada warung kecil yang mencoba bertahan tanpa menaikkan harga jual. Ramadhan, bagi mereka, adalah waktu ibadah sekaligus ujian ekonomi.

Sebagian warga memilih datang lebih pagi untuk mendapatkan harga lebih baik, sementara yang lain memanfaatkan promo bahan pokok di tempat berbeda. Adaptasi kecil ini menjaga dapur tetap mengepul tanpa mengorbankan kebutuhan lain.

Antisipasi dan Harapan

Warga berharap harga segera stabil seiring membaiknya pasokan. Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan diharapkan memastikan distribusi lancar agar gejolak tidak berlarut. Stabilitas harga bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga ketenangan publik di masa ibadah.

Penutup

Kenaikan harga cabai rawit di Pasar Jatinegara menjelang Ramadhan adalah potret dinamika pasar yang berulang namun selalu relevan. Dengan pasokan yang dijaga, distribusi yang lancar, dan empati antar pelaku pasar, gejolak dapat diredam.

Pesannya sederhana dan membumi: siapkan anggaran, belanja bijak, dan saling memahami—agar Ramadhan berjalan khidmat, dapur tetap hangat, dan pasar tetap hidup.