Jakarta (cvtogel) — Mundurnya Amerika Serikat dari sejumlah organisasi dan mekanisme internasional bukan sekadar perubahan arah kebijakan luar negeri. Menurut Djumala, langkah tersebut berpotensi memberi keuntungan strategis bagi China, terutama dalam perebutan pengaruh global di forum-forum multilateral.
Pernyataan ini menyoroti dinamika kekuasaan dunia yang sedang bergeser—bukan lewat konflik terbuka, melainkan melalui kehadiran, konsistensi, dan kepemimpinan di meja perundingan internasional.
Ruang Kosong yang Cepat Terisi
Djumala menilai, ketika Amerika Serikat menarik diri atau mengurangi perannya, tercipta ruang kosong dalam pengambilan keputusan global. Ruang inilah yang dengan cepat dapat diisi oleh China, baik melalui peningkatan kontribusi, kepemimpinan agenda, maupun penempatan sumber daya diplomatik.
“Dalam diplomasi multilateral, siapa yang hadir dan konsisten akan menentukan arah,” ujar Djumala. Tanpa kehadiran AS, standar, norma, dan prioritas global berisiko dibentuk oleh pihak lain yang lebih aktif.
Multilateralisme dan Perebutan Pengaruh
Organisasi internasional—dari isu kesehatan, perdagangan, hingga lingkungan—menjadi arena penting membangun legitimasi dan pengaruh. Ketika AS absen, China memiliki peluang memperkuat narasi, mendorong inisiatif, dan membangun koalisi yang sejalan dengan kepentingannya.
Djumala menekankan, ini bukan semata soal jumlah kursi atau suara, melainkan arah kebijakan jangka panjang: standar teknologi, aturan perdagangan, hingga tata kelola global.
Human Interest: Dampak pada Kehidupan Nyata
Perubahan peta pengaruh global bukan isu elitis. Keputusan di forum internasional berdampak langsung pada kehidupan masyarakat—harga obat, akses vaksin, aturan perdagangan yang memengaruhi UMKM, hingga komitmen iklim yang menentukan keselamatan publik.
Ketika satu kekuatan besar mundur, keputusan bisa condong pada kepentingan pihak yang tersisa. “Yang terdampak akhirnya warga biasa,” kata Djumala, mengingatkan bahwa diplomasi adalah soal kehidupan sehari-hari, bukan hanya politik tingkat tinggi.
Keamanan Publik dan Stabilitas Global
Dari perspektif keamanan publik, konsistensi multilateralisme membantu mencegah eskalasi konflik dan ketidakpastian. Djumala menilai, fragmentasi global akibat tarik-menarik kekuatan besar dapat melemahkan respons bersama terhadap krisis—pandemi, perubahan iklim, dan bencana kemanusiaan.
Ketika kepemimpinan melemah, koordinasi melambat. Dan ketika koordinasi melambat, risiko bagi masyarakat meningkat.
Pelajaran bagi Negara Menengah
Bagi negara-negara menengah seperti Indonesia, situasi ini menjadi pengingat pentingnya diplomasi aktif dan seimbang. Ketika kekuatan besar berfluktuasi perannya, negara menengah perlu menjaga otonomi, memperkuat koalisi, dan memastikan kepentingan nasional terlindungi di forum multilateral.
Djumala menilai, kehadiran konsisten dan kemampuan menjembatani perbedaan adalah modal strategis untuk tetap relevan di tengah pergeseran global.
Penutup: Kehadiran Menentukan Arah
Pernyataan Djumala menyimpulkan satu pesan kunci: dalam dunia yang saling terhubung, menarik diri berarti menyerahkan pengaruh. Keluarnya AS dari organisasi internasional dapat memberi keuntungan bagi China—bukan karena konflik, tetapi karena kehadiran yang berkelanjutan.
Di era diplomasi modern, kekuatan tidak hanya diukur dari daya militer atau ekonomi, melainkan dari siapa yang bertahan di meja perundingan—dan siapa yang memilih pergi.
