Pulau Siau, Kepulauan Sitaro (cvtogel) — Pagi di Paseng tak lagi sunyi oleh kepanikan, melainkan oleh suara cangkul, sekop, dan alat berat yang bekerja tanpa jeda. Jalan yang sempat terputus akibat banjir bandang kini perlahan terbuka kembali. Di balik upaya itu, prajurit Kodam Merdeka turun langsung ke lapangan, membuka akses vital yang sempat memisahkan warga dari bantuan dan harapan.
Banjir bandang yang menerjang Pulau Siau meninggalkan lumpur tebal, bebatuan besar, dan batang kayu yang menutup badan jalan di wilayah Paseng. Akses utama warga lumpuh. Ambulans tak bisa melintas, logistik tertahan, dan aktivitas masyarakat terhenti. Dalam kondisi darurat seperti ini, membuka jalan berarti membuka kembali denyut kehidupan.
Dari Tertutup Total hingga Bisa Dilalui
Prajurit Kodam Merdeka bersama unsur terkait bahu-membahu membersihkan material banjir. Mereka bekerja sejak pagi, menyusuri titik-titik terparah dengan perhitungan keselamatan yang ketat. Tanah yang masih labil dan sisa aliran air menjadi tantangan tersendiri.
“Yang kami kejar adalah akses cepat agar bantuan bisa masuk dan warga bisa bergerak,” ujar salah satu prajurit di lokasi. Setiap sekop yang diayunkan membawa tujuan yang sama: memastikan Paseng tidak terisolasi lebih lama.
Perlahan, jalur yang sebelumnya tak bisa dilalui mulai terbuka. Kendaraan roda dua lebih dulu melintas, disusul kendaraan pengangkut logistik. Warga yang menyaksikan tak mampu menyembunyikan rasa lega.
Jalan dan Rasa Aman
Bagi masyarakat kepulauan seperti Pulau Siau, jalan bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah penghubung ke layanan kesehatan, pendidikan, dan pasar. Ketika akses terputus, rasa aman ikut hilang. Itulah sebabnya pembukaan jalan Paseng menjadi prioritas.
Seorang warga mengaku sempat khawatir tak bisa membawa anggota keluarganya yang sakit ke fasilitas kesehatan. “Kalau jalannya tertutup, kami hanya bisa menunggu. Sekarang sudah bisa lewat, rasanya seperti bernapas lagi,” katanya.
Peran TNI dalam Kemanusiaan
Keterlibatan Kodam Merdeka menegaskan peran TNI tidak hanya dalam pertahanan, tetapi juga dalam misi kemanusiaan dan keselamatan publik. Di Pulau Siau, prajurit tidak datang sebagai aparat bersenjata, melainkan sebagai saudara yang ikut merasakan beban warga.
Mereka membantu membersihkan rumah, mengevakuasi barang yang tersisa, hingga memastikan kelompok rentan—anak-anak, lansia, dan perempuan—mendapat akses lebih dulu. Pendekatan ini membuat kehadiran TNI terasa dekat dan membumi.
Sinergi dan Gotong Royong
Pembukaan jalan Paseng juga melibatkan pemerintah daerah, relawan, dan warga setempat. Gotong royong menjadi kekuatan utama. Warga menyediakan alat seadanya, prajurit mengerahkan tenaga dan kedisiplinan, sementara aparat sipil mengoordinasikan kebutuhan logistik.
Kolaborasi ini mempercepat pemulihan awal dan mengurangi risiko lanjutan, terutama jika hujan kembali turun. Pembersihan drainase dan penataan sementara dilakukan agar air tidak kembali menggerus badan jalan.
Dari Darurat ke Pemulihan
Meski akses sudah terbuka, pekerjaan belum selesai. Pemulihan pascabencana membutuhkan waktu dan perhatian berkelanjutan. Evaluasi kondisi lereng, perbaikan permanen jalan, serta mitigasi risiko banjir bandang menjadi agenda penting ke depan.
Namun bagi warga Paseng hari ini, terbukanya jalan adalah tanda bahwa mereka tidak ditinggalkan. Negara hadir, dan bantuan bisa mengalir.
Harapan yang Kembali Mengalir
Di antara lumpur yang mengering dan jalan yang mulai bisa dilalui, harapan tumbuh pelan-pelan. Anak-anak kembali berani bermain di depan rumah, warga mulai membersihkan sisa-sisa bencana, dan roda kehidupan berputar kembali.
Pembukaan akses jalan Paseng oleh Kodam Merdeka bukan sekadar pekerjaan teknis. Ia adalah pesan kemanusiaan: ketika bencana memutus, kebersamaan menyambung kembali. Pulau Siau melangkah dari duka menuju pemulihan—satu jalan, satu harapan, dibuka bersama.
